aku rindu langit pagi pulau yang luasnya 15,448 kilometer persegi itu. paginya sepi gelap menusuk, tapi selalu aku tunggu. karena artinya itu waktu aku dan kamu kembali bertemu. aku rindu langit sore tana intan itu. yang rona jingga-nya beradu syahdu dengan langitnya biru. di lain sorenya, aku rindu langit pulau yang suhu rata-ratanya 33°C itu. yang hari itu dominan warna biru campur abu-abu. gerimis seharian tapi hangat karena aku dengar banyak tawa dan celotehmu. kalau banyak tawanya tanda sedang bahagia katamu. meski benci, tapi aku tetap rindu langit malam yang titik koordinatnya di 8°47′S 118°5′E itu. purnamanya terang, tenang, karena aku dan kamu menguap selesai hari itu. aku rindu langit yang bahkan darat dan udaranya tak pernah benar-benar sempat aku peluk, tempat yang jauh di Tenggara itu.
This morning, waking up for Fajr felt like a storm of emotions. I am in a phase of my life where I kept trying to woo Allah for this one thing, slipping through the tahajjud lane, hoping my late-night whispers would reach Him first. But last night I just came home from a music festival at midnight and didn’t fall asleep until 2 a.m. So yes, I overslept a little. Alhamdulillah, Allah gave me the strength to woke up for Fajr, not exactly on time, but still before sunrise. I got up, began to pray. I prayed for quite long in my last sujood. The theme of my prayer was still the same; the same plea, the same name, the same longing. Yet this morning, something shifted. It wasn’t about insisting anymore. It was about releasing. About asking for spaciousness in my heart, for patience that stretches further. Maybe it was the fatigue from the last night, or maybe something in me was simply ready to let go. After my pray, I thought of going back to sleep, was so sleepy I could barely keep my eyes ...
Ben Sore ini gue masih berkutat dengan beberapa design yang harus gue serahkan ke bos gue besok pagi. Satu persatu teman-teman kantor gue sudah mulai bersiap-siap pulang, tiba-tiba satu notifikasi muncul. Aurora Kemala: Ben, temenin ngopi yuk? Bodo amat dengan design-design ini, bisalah nanti malam gue begadangin, buru-buru gue menelfon perempuan yang tahunan namanya tidak pernah lepas dari pikiran gue , insane, I know . "Halo, Ra?" "Ben!" "Udah kelar kerjaan, Ibu pengacara?” "Belum sih, tapi harusnya engga lama lagi selesai. Temenin ngopi yuk, Ben?" Aurora menyambut telfonnya hangat, seperti biasa. "Tapi gue laper, Ra. Dudung abis itu ngopi?" "Cinta banget ya lo sama si Dudung, baru bentar absen udah kangen. Fine , Dudung habis itu ngopi. 30 menit lagi ya?" "Ok." Dudung–Sop Kaki Kambing Dudung Roxy– asal aja, by the way , gue menyingkat begitu, one of my favorite remedy kalau lagi sakit kepal...