Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita khayal

epilog sederhana "segitiga tidak sama sisi"

Ben Sore ini gue masih berkutat dengan beberapa design yang harus gue serahkan ke bos gue   besok pagi. Satu persatu teman-teman kantor gue sudah mulai bersiap-siap pulang, tiba-tiba satu notifikasi muncul. Aurora Kemala: Ben, temenin ngopi yuk? Bodo amat dengan design-design ini, bisalah nanti malam gue begadangin, buru-buru gue menelfon perempuan yang tahunan namanya tidak pernah lepas dari pikiran gue , insane, I know . "Halo, Ra?" "Ben!" "Udah kelar kerjaan, Ibu pengacara?” "Belum sih, tapi harusnya engga lama lagi selesai. Temenin ngopi yuk, Ben?" Aurora menyambut telfonnya hangat, seperti biasa. "Tapi gue laper, Ra. Dudung abis itu ngopi?" "Cinta banget ya lo sama si Dudung, baru bentar absen udah kangen. Fine , Dudung habis itu ngopi. 30 menit lagi ya?" "Ok." Dudung–Sop Kaki Kambing Dudung Roxy– asal aja, by the way , gue menyingkat begitu, one of my favorite remedy kalau lagi sakit kepal...

segitiga tidak sama sisi

Ben Sambil menyesap kopi hitam favoritnya, wanita di depan gue ini berkata seraya tertawa kecil, “Gue mau move on dari dia tuh selalu jadi wacana aja ya, Ben?” Gue tidak membalas, hanya tersenyum. Pahit. Mungkin sepahit kopinya. “Gimana gue mau pindah ke tempat yang baru, Ben, setiap kali gue coba, dia selalu tiba-tiba datang lagi. Seakan tau gue ingin pindah tapi enggak pernah memperbolehkan.” Ia melanjutkan, kali ini dengan tatapan mata menerawang. Mata yang selalu membuat gue jatuh cinta, ribuan kali, lagi dan lagi. Tapi sialnya, mata penuh harap itu tidak pernah bisa melihat bahwa ada sepasang mata lain di hadapannya yang juga sedang jatuh cinta terhadapnya. Aurora Gelas kopi kedua sudah aku habiskan bersama Ben, sahabat lelaki di depanku yang sedari tadi setia mendengar cerita-cerita nonsense ku tentang seseorang yang sudah lama menyesakkan anganku tentangnya tanpa pernah betul-betul Ia sadari. Alghi, namanya. Kalau kalian ingin mendengar cerita tentang seorang w...

aku, kamu, dia dan mereka

"Kamu dimana?" "Di Kopi Kita. Kamu?" "Aku kesitu." Hujan membasahi setiap sudut kota metropolitan Jakarta akhir-akhir ini. Antrian mobil bak parkiran di jalanan terutama jalan-jalan protokol pun tak terelakkan, puncaknya pagi dan sore hari, jam bubaran kantor , begitu  mereka menyebutnya. Aisha memilih untuk melipirkan mobilnya ke kedai Kopi Kita yang tak jauh dari kantornya. "Daripada kaki gue putus ditengah jalan," pikirnya. "Hai, cantik!" "Hai! Kok tumben tenggo* ?" "Lagi pengen aja. Pusing, lagi mumet di kantor, mending ketemu kamu," jawab Adry dengan senyuman khasnya. Aisha dan Adry, pasangan sempurna, begitu mereka mencap kedua sejoli itu. Pasangan yang sudah sama-sama jatuh hati semenjak pertemuan pertama kalinya 5 tahun yang lalu. 5 tahun, bagi mereka , sudah cukup rasanya bagi kedua pasangan itu untuk menikah. Umur kedua pasangan tersebut sedang, tidak terlalu muda atau tua, denga...

cerita terakhir Saya

Saya gelisah. Menunggu kehadiran seseorang, menjemput Dia yang dinantikan. Dirindukan. "Saya rindu sekali, ya? Terlihat tidak sabar." "Tidak juga." "Hai, Saya. Terima kasih sudah menjemput dan menunggu." "Saya minta maaf meninggalkan kamu seperti itu tempo hari." "Saya rindu kamu." Kemudian Dia tersenyum seraya memeluk Saya erat. --- Saya merasa ada hangat di sekitarnya. Memaksa Saya membuka kelopak mata Saya. "Hai, selamat pagi, Saya!"

cerita Saya yang ketiga

Saya kali ini merasa benar-benar sendiri. "Kalau rindu, coba Dia di contact dong, Saya," Ibu Saya berujar melihat kegelisahan Saya. "Kata siapa Saya rindu?" Ibu Saya tersenyum, mengangguk pelan, mencoba mengerti mengapa Saya seharian nampak sangat gelisah mengingat salah satu teman Saya tadi pagi memberi tahu bahwa Dia telah pergi. Saya kemudian beranjak ke kamar Saya. Tempat dimana Saya bisa bebas mengekspresikan emosi yang bergejolak di hati Saya, di pikiran Saya. Saya menangis tersedu-sedu. Saya mengaku kalah. Kali ini, Saya benar-benar kalah. --- Azan subuh dari masjid dekat rumah si Saya berkumandang. "Aneh." Kemudian si Saya beranjak dari kasurnya.

cerita kedua Saya

"Kalau Dia datang kemari tanya Saya ada atau tidak, tolong sampaikan ke Dia, Saya tidak ingin bertemu dengan siapapun, terutama Dia." Saya kemudian berlari kecil ke kamar Saya. Menghempaskan diri Saya ke kasur empuk pilihan Ibu Saya. Menghapus sedikit air mata di wajah, kemudian Saya terlelap begitu saja. "Tadi, Dia datang." "Lalu?" "Kemudian Dia menerobos masuk ke kamar. Melihat Saya tertidur." "Lalu?" "Kemudian berlalu, hanya meninggalkan pesan di secarik kertas ini." Saya, semoga selalu tidur nyenyak seperti tadi. Sebentar saja, lalu kita pasti akan bertemu lagi. Tunggu ya? --- Si Saya memicingkan mata, matahari kian menusuk keduanya, tanda kehidupan sudah mulai merasuki jiwa. Hai, Dunia! "Tadi, Saya tidur di dalam tidur?"

cerita Saya

Saya sedang bersama kedua teman lama di sebuah perhelatan. Di tengah perhelatan, salah satu teman Saya berbisik ke arah Saya dan satu teman Saya yang lainnya, "Dia sudah menunggu di luar." Saya spontan bertanya, "Siapa?" Lalu, teman Saya menjawab sebuah nama. Nama yang sangat Saya kenal. Saya terdiam sampai akhirnya Saya memutusan untuk bertemu dengannya. Mereka kemudian menuju ke arah lift. Di dalam lift, salah satu teman Saya itu berkata, "Pada akhirnya, kita bisa melihat siapa yang lebih dahulu menyerah." --- Kemudian si Saya terbangun. Selamat hari Minggu!