Postingan

Undone

Two buttons fell off from my shirt earlier last week. Maybe it was just wear and tear, or maybe it was the universe's quiet way of saying, "Hey, slow down. Let me tell you something." I almost brushed it off, but it lingered. They say it's a bad sign when things fall apart, but I don't quite believe that. Maybe it's just life showing us what needs attention. There's something about things coming undone that mirrors the small unraveling we sometimes feel inside; subtle, inconvenient, but honest. That not everything has to stay perfectly held together all the time. So later at the end of the week, I sat down, found a needle, took a thread and started sewing them back. One slow loop after another. The kind of small act that steadies my breathing without I even noticing. The kind that reminds me how repair can be a form of prayer. And somewhere in between the stitches, it felt like something in me realigned too. A quiet knowing that not everythi...

The Fajr I’d Never Forget

This morning, waking up for Fajr felt like a storm of emotions. I am in a phase of my life where I kept trying to woo Allah for this one thing, slipping through the tahajjud lane, hoping my late-night whispers would reach Him first. But last night I just came home from a music festival at midnight and didn’t fall asleep until 2 a.m. So yes, I overslept a little. Alhamdulillah, Allah gave me the strength to woke up for Fajr, not exactly on time, but still before sunrise. I got up, began to pray. I prayed for quite long in my last sujood. The theme of my prayer was still the same; the same plea, the same name, the same longing. Yet this morning, something shifted. It wasn’t about insisting anymore. It was about releasing. About asking for spaciousness in my heart, for patience that stretches further. Maybe it was the fatigue from the last night, or maybe something in me was simply ready to let go. After my pray, I thought of going back to sleep, was so sleepy I could barely keep my eyes ...

Review on AADC2

"Lihat tanda tanya itu. Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi." Kalimat itu seakan ngga bisa lepas dari otak gue selesai gue nonton Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2) di hari kedua penayangan serentak lanjutan film legendaris Indonesia tahun 2002 itu. 2002, waktu itu gue baru kelas 2 SD, masih bocah ingusan, kata "cinta" aja kayaknya belum pernah denger. Gue baru nonton AADC itu seinget gue waktu SD akhir atau SMP awal gitu beli DVDnya, gue lupa sebenernya gue kapan nonton AADC, tapi yang jelas gue nonton AADC itu bisa jadi lebih dari 5x. Seneng banget liat Rangga (Rangga itu salah satu faktor kenapa gue suka banget sama cowok pendiem, ganteng, ngga banyak ngomong, pinter suka nulis puisi. Hehe.), seneng banget liat Rangga dan Cinta, Rangga - Pak Wardiman, Cinta dan Milly, Maura, Karmen, Alya + Mamet. Buat gue AADC adalah refleksi sempurna masa remaja di Indonesia. Tahun 2014, LINE ngeluarin iklan untuk feature Find Alumni mere...

epilog sederhana "segitiga tidak sama sisi"

Ben Sore ini gue masih berkutat dengan beberapa design yang harus gue serahkan ke bos gue   besok pagi. Satu persatu teman-teman kantor gue sudah mulai bersiap-siap pulang, tiba-tiba satu notifikasi muncul. Aurora Kemala: Ben, temenin ngopi yuk? Bodo amat dengan design-design ini, bisalah nanti malam gue begadangin, buru-buru gue menelfon perempuan yang tahunan namanya tidak pernah lepas dari pikiran gue , insane, I know . "Halo, Ra?" "Ben!" "Udah kelar kerjaan, Ibu pengacara?” "Belum sih, tapi harusnya engga lama lagi selesai. Temenin ngopi yuk, Ben?" Aurora menyambut telfonnya hangat, seperti biasa. "Tapi gue laper, Ra. Dudung abis itu ngopi?" "Cinta banget ya lo sama si Dudung, baru bentar absen udah kangen. Fine , Dudung habis itu ngopi. 30 menit lagi ya?" "Ok." Dudung–Sop Kaki Kambing Dudung Roxy– asal aja, by the way , gue menyingkat begitu, one of my favorite remedy kalau lagi sakit kepal...

prosa berirama kamu

Melly Goeslaw menurutku salah Siapa yang pernah bilang bahwa rindu itu indah Nyatanya rindu membuatku berantakan Aku tidak beraturan Aku rindu cara kamu memperlakukan aku Tapi dulu aku terlalu dungu Membuat kamu putus asa Sehingga sekarang aku hampa Cara kamu membahagiakan aku begitu manis Kalau diingat semua bagaikan nirwana Aku jadi terhempas secara tragis Kamu sudah tidak tahu dimana Cara Tuhan memberi pelajaran tak pernah sama Ia memberiku pelajaran rindu lewat kamu Cara Tuhan menegur umat-Nya pasti berbeda Ia menegurku melalui kamu yang berlalu Harusnya dulu aku tahu Kamu adalah apa adanya kamu Dan aku menyesal tidak melihat itu Maaf, sempurna bukan milikku - t.r. 2015

Trip to Malang-Batu-Bromo (+10 tips!)

Gambar
Hello, fellow readers! Sebelum memulai bercerita trip gue ke Malang-Batu-Bromo kemarin, let me say: Taqobbal Allahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin , maaf lahir batin, selamat lebaran, semuanya! Disclaimer: 10 tips penting-ngga penting yang gue kasih mungkin cocoknya buat kalian yang sukanya mager-mageran, ngga cocok sih kayaknya buat kalian turis-turis yang berjiwa aktif dan semangat. Hahaha! Jadi, hari ke 3 lebaran, gue dan keluarga bersama-sama pergi ke stasiun Gambir untuk memulai tour ke Batu, Malang dan Bromo , karena keluarga gue adalah keluarga Betawi, ngga punya kampung, ngga pernah mudik, jadi diada-adain aja. Kenapa naik kereta? Pengen coba. Gue dan Ibu bukan first-timer naik kereta jauh, pernah ke Jogja dahulu sekali naik kereta, tapi kakak dan adik gue belom pernah, jadilah Ibu berinisiatif untuk kami cobain naik kereta, ok then, let's go! DAY 1 Kami naik kereta api Gajayana , Jakarta-Malang, harganya kurang lebih Rp 600.000, belinya t...