Postingan

cerita Saya yang ketiga

Saya kali ini merasa benar-benar sendiri. "Kalau rindu, coba Dia di contact dong, Saya," Ibu Saya berujar melihat kegelisahan Saya. "Kata siapa Saya rindu?" Ibu Saya tersenyum, mengangguk pelan, mencoba mengerti mengapa Saya seharian nampak sangat gelisah mengingat salah satu teman Saya tadi pagi memberi tahu bahwa Dia telah pergi. Saya kemudian beranjak ke kamar Saya. Tempat dimana Saya bisa bebas mengekspresikan emosi yang bergejolak di hati Saya, di pikiran Saya. Saya menangis tersedu-sedu. Saya mengaku kalah. Kali ini, Saya benar-benar kalah. --- Azan subuh dari masjid dekat rumah si Saya berkumandang. "Aneh." Kemudian si Saya beranjak dari kasurnya.

cerita kedua Saya

"Kalau Dia datang kemari tanya Saya ada atau tidak, tolong sampaikan ke Dia, Saya tidak ingin bertemu dengan siapapun, terutama Dia." Saya kemudian berlari kecil ke kamar Saya. Menghempaskan diri Saya ke kasur empuk pilihan Ibu Saya. Menghapus sedikit air mata di wajah, kemudian Saya terlelap begitu saja. "Tadi, Dia datang." "Lalu?" "Kemudian Dia menerobos masuk ke kamar. Melihat Saya tertidur." "Lalu?" "Kemudian berlalu, hanya meninggalkan pesan di secarik kertas ini." Saya, semoga selalu tidur nyenyak seperti tadi. Sebentar saja, lalu kita pasti akan bertemu lagi. Tunggu ya? --- Si Saya memicingkan mata, matahari kian menusuk keduanya, tanda kehidupan sudah mulai merasuki jiwa. Hai, Dunia! "Tadi, Saya tidur di dalam tidur?"

cerita Saya

Saya sedang bersama kedua teman lama di sebuah perhelatan. Di tengah perhelatan, salah satu teman Saya berbisik ke arah Saya dan satu teman Saya yang lainnya, "Dia sudah menunggu di luar." Saya spontan bertanya, "Siapa?" Lalu, teman Saya menjawab sebuah nama. Nama yang sangat Saya kenal. Saya terdiam sampai akhirnya Saya memutusan untuk bertemu dengannya. Mereka kemudian menuju ke arah lift. Di dalam lift, salah satu teman Saya itu berkata, "Pada akhirnya, kita bisa melihat siapa yang lebih dahulu menyerah." --- Kemudian si Saya terbangun. Selamat hari Minggu!